Confide fili: orang lumpuh, pengampunan, dan Maria yang menghadapkan para pendosa

Oleh Prof. Dr. Daniel C. Afonso · Diperbarui
Et videns Iesus fidem illorum, dixit paralytico: Confide, fili, remittuntur tibi peccata tua.
Mat 9:2
Penyembuhan orang lumpuh (Mat 9:1-8) adalah kisah pertama dari rangkaian mukjizat kedua dalam Matius (bab 9) dan salah satu yang membuka persoalan paling radikal dalam pelayanan Yesus: kuasa-Nya untuk mengampuni dosa. “Siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah”? (Mat 9:3, tersirat dalam tuduhan hujat para ahli Taurat) adalah pertanyaan yang tepat, dan jawabannya adalah peragaan yang kelihatan bahwa Dia yang membuat orang lumpuh berjalan juga memiliki kuasa yang tak kelihatan untuk mengampuni. Penyembuhan fisik adalah tanda yang membuat apa yang tidak dapat diverifikasi secara langsung menjadi dapat diverifikasi: pengampunan dosa.
Matius mengisahkan peristiwa ini dengan penghematan kata yang mencolok. Lukas (Luk 5:17-26) dan Markus (Mrk 2:1-12) melukiskan sahabat-sahabat yang membuka atap untuk menurunkan orang lumpuh itu, sebuah gambaran iman yang berani yang dihilangkan Matius untuk memusatkan perhatian pada hal yang hakiki: “melihat iman mereka” (Mat 9:2), Yesus menanggapi. Iman yang “dilihat” Yesus adalah iman mereka yang menggotong orang lumpuh itu; tidak dibicarakan secara eksplisit iman orang lumpuh itu sendiri. Detail ini berharga secara teologis: penyembuhan/pengampunan orang lumpuh itu dijembatani oleh iman orang lain yang menghadapkannya kepada Yesus. Perantaraan, yakni membawa orang lain ke hadirat Yesus, adalah syarat penyembuhan.
I. “Melihat iman mereka”: perantaraan yang menyembuhkan
“Videns fidem illorum”, “setelah melihat iman mereka” (dalam bentuk jamak), adalah salah satu rumusan paling menonjol dalam Injil tentang perantaraan. Yesus tidak bertanya kepada orang lumpuh itu apakah ia percaya. Ia tidak memeriksa keadaan rohaninya sebelum bertindak. Ia melihat iman mereka yang menggotongnya dan bertindak. Struktur adegan ini adalah struktur perantaraan murni: seseorang yang membutuhkan pertolongan, tidak mampu menghadap sendiri, digotong oleh orang lain yang percaya, dihadapkan kepada Sang Penyembuh yang menanggapi iman mereka yang menghadapkannya.
Struktur ini adalah model teologis perantaraan Maria. Maria tidak menggantikan iman peniten; ia tidak dapat percaya menggantikan siapa pun. Tetapi ia dapat “menggotong” mereka yang, karena kelemahan rohani, kelumpuhan akibat dosa, atau jauhnya dari iman, tidak mampu menghadap sendiri kepada Sang Putra. “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3) adalah rumusan kanonis dari penghadapan perantaraan ini: Maria menghadapkan kepada Sang Putra kebutuhan mereka yang tidak mampu atau tidak tahu cara menghadap. Seperti sahabat-sahabat orang lumpuh itu, Maria “menggotong” kepada Yesus mereka yang terhalang berjalan oleh kelemahan mereka sendiri.
Teologi “perantaraan para kudus” memiliki dasar injili yang kokoh dalam kisah ini. Jika Yesus menanggapi iman sahabat-sahabat orang lumpuh itu, maka struktur tindakan ilahi mencakup pengantaraan iman orang lain sebagai syarat bagi kebaikan si sakit. Ini tidak berarti bahwa Allah tidak mampu bertindak tanpa pengantaraan; seperti telah kita lihat pada perwira itu (Mat 8:8), Ia dapat bertindak dari jauh tanpa perantaraan yang kelihatan. Tetapi adegan orang lumpuh menyingkapkan kemungkinan lain: bahwa iman orang yang menjadi perantara dapat menjadi jalan yang olehnya rahmat sampai kepada orang yang tidak memiliki iman yang cukup untuk berjalan sampai kepada Sang Penyembuh.
Dimensi komuniter dari perantaraan ini juga penting: “iman mereka” adalah iman yang dibagikan, bukan iman individual. Tubuh Kristus, yaitu Gereja, adalah ruang tempat iman sebagian orang menanggung kelemahan orang lain. Doa permohonan yang dipanjatkan komunitas bagi anggota-anggotanya yang sakit atau tidak hadir adalah padanan gerejawi dari sahabat-sahabat orang lumpuh itu: membawa kepada Yesus, melalui doa dan kehadiran, mereka yang terhalang oleh keadaan mereka sendiri untuk bangun dan berjalan.
II. “Dosamu sudah diampuni”: skandal prioritas
Jawaban Yesus kepada orang lumpuh itu tidak terduga: bukan “bangunlah dan berjalanlah”, melainkan “dosamu sudah diampuni” (Mat 9:2). Penyembuhan fisik datang kemudian, sebagai tanggapan atas skandal para ahli Taurat. Urutan prioritas ini, pertama pengampunan, lalu penyembuhan, menyingkapkan apa yang dianggap Yesus paling mendesak: bukan penderitaan fisik orang lumpuh itu (yang nyata dan kelihatan), melainkan keadaan rohaninya (yang tak kelihatan). Pengampunan dosa adalah penyembuhan yang paling dalam. Kemampuan kaki untuk bergerak adalah tanda dari penyembuhan yang lebih dalam itu.
“Beberapa orang ahli Taurat berkata dalam hatinya: Ia menghujat Allah” (Mat 9:3): tuduhan ini secara teknis benar dalam kerangka teologis Yahudi: hanya Allah yang dapat mengampuni dosa (karena dosa adalah pelanggaran terhadap Allah, dan hanya pihak yang dilanggar yang dapat mengampuni). Apa yang tidak dapat dilihat para ahli Taurat adalah bahwa premis tuduhan itu justru meneguhkan apa yang ditegaskan Yesus: jika hanya Allah yang dapat mengampuni dan Yesus mengampuni, maka entah Yesus menghujat, entah Yesus adalah Allah. Para ahli Taurat memilih pilihan pertama. Gereja, yang diajar oleh Dia yang Bangkit, memilih pilihan kedua.
“Supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa, lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu” (Mat 9:6): penyembuhan fisik adalah peragaan apologetis dari pengampunan yang tak kelihatan. Yesus memakai yang dapat diverifikasi (orang lumpuh yang berjalan) sebagai bukti dari yang tak dapat diverifikasi (pengampunan). Struktur ini, yang kelihatan sebagai tanda dari yang tak kelihatan, adalah struktur sakramental: air baptis sebagai tanda rahmat baptis, roti dan anggur sebagai tanda kehadiran ekaristis, absolusi yang diucapkan sebagai tanda pengampunan sakramental.
Sakramen Tobat, dalam tradisi patristik, adalah padanan Perjanjian Baru dari penyembuhan orang lumpuh ini. Ambrosius dari Milano dan Agustinus dari Hippo mengembangkan pembacaan penyembuhan orang lumpuh sebagai tipe sakramen tobat: “kelumpuhan akibat dosa” yang menghalangi perjalanan rohani, penghadapan kepada Sang Penyembuh melalui pengantaraan mereka yang menggotong peniten (komunitas, Gereja), dan anugerah ganda, yaitu pengampunan dan kemampuan untuk kembali berjalan dalam hidup kristiani.
III. “Confide, fili”: kelembutan pengampunan
“Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku” (Mat 9:2, “tharsei, teknon”): sebelum berbicara tentang pengampunan, Yesus menyapa orang lumpuh itu dengan ungkapan kelembutan dan peneguhan. “Teknon” (“anak”, “nak”) adalah bentuk sapaan penuh kasih yang membangkitkan relasi orang tua dan anak. Yesus tidak mengampuni dengan dingin, seperti seorang hakim yang menjatuhkan putusan bebas. Ia mengampuni dengan kelembutan seseorang yang tahu beratnya beban yang dipikul orang lumpuh itu. “Teguhkanlah hatimu” bukanlah perintah untuk mengerahkan kekuatan kehendak: itu adalah pemberitahuan bahwa keadaan telah berubah, bahwa apa yang tampak mustahil kini sedang terjadi.
Kelembutan pengampunan ini adalah salah satu aspek yang kurang tampak tetapi paling penting dari soteriologi Matius. Keselamatan bukanlah transaksi dingin antara terdakwa dan pengadilan, melainkan pemulihan relasi antara bapa dan anak. “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku” mengingatkan pada perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas, sang bapa yang berlari menyongsong anaknya sebelum ia selesai mengucapkan kata-kata penyesalannya. Pengampunan Yesus mendahului pertanggungjawaban orang lumpuh itu: kita tidak tahu apakah ia mengaku diri pendosa, kita tidak tahu apakah ia berjanji untuk memperbaiki diri. Yesus mengampuni karena Ia melihat iman mereka yang menghadapkannya.
Devosi Maria kepada Hati Kudus Yesus menemukan dalam “Confide, fili” ini salah satu teks kesayangannya: hati yang dipersembahkan Yesus bukanlah hati seorang hakim yang acuh tak acuh, melainkan hati Dia yang berkata “teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku” kepada manusia yang digotong kepada-Nya. Maria, yang mengenal hati ini lebih dekat daripada siapa pun, yang mengandung-Nya dalam rahimnya, yang memberi-Nya makan, yang mendampingi-Nya di Kalvari, adalah dia yang, melalui perantaraannya, dapat menuntun anak-anak rohaninya untuk mengalami “Confide, fili” yang ia sendiri dengar sepanjang hidupnya.
“Refugium Peccatorum”, Tempat Pengungsian Orang Berdosa, adalah gelar Maria yang menangkap aspek perantaraannya bagi mereka yang memikul beban dosa. Maria adalah tempat pengungsian, bukan pengampunan itu sendiri (yang merupakan anugerah Kristus dalam sakramen), melainkan ruang penerimaan tempat pendosa menemukan rasa aman untuk membiarkan dirinya “digotong” kepada Yesus. Seperti sahabat-sahabat orang lumpuh yang tidak membiarkan sahabat mereka terlantar dalam kelumpuhannya, Maria tidak meninggalkan anak-anaknya dalam ketidakmampuan mereka: ia menghadapkan mereka kepada Sang Putra yang berkuasa untuk mengampuni dan membuat mereka berjalan.
IV. Orang banyak yang memuliakan Allah: buah pengampunan
“Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia” (Mat 9:8): kisah ini tidak berakhir dengan sukacita orang yang disembuhkan, melainkan dengan pemuliaan Allah secara bersama. Penyembuhan satu orang memiliki dampak komuniter: kesaksian tentang pengampunan dan penyembuhan menjadi alasan pujian bagi mereka yang menyaksikannya. Keselamatan bukanlah peristiwa pribadi antara Yesus dan orang lumpuh itu: ia meluap kepada komunitas yang memuliakan Allah yang “telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia”.
Rumusan “telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia” (Mat 9:8) bersifat eklesiologis: Matius tidak hanya berkata “kepada Yesus”, melainkan “kepada manusia”. Perluasan kuasa mengampuni kepada umat manusia ini mengantisipasi Mat 18:18 (“apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga”) dan Yoh 20:23 (“jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni”). Kuasa mengampuni yang diperagakan Yesus pada orang lumpuh itu diteruskan kepada Gereja, dan dalam penerusan inilah Sakramen Tobat menemukan dasar teologisnya yang langsung.
Peran Maria dalam dimensi gerejawi pengampunan adalah peran dia yang pertama mengalami “pengampunan dosa” dalam arti yang paling luas: pemeliharaan Yang Dikandung Tanpa Noda dan karya penebusan Sang Putra yang lahir darinya adalah sumber-sumber sakramen yang dilayankan Gereja. Ketika Maria menjadi perantara bagi para peniten dalam Sakramen Tobat, melalui doa rosario sebelum pengakuan dosa, melalui penghormatan kepada Bunda Penolong Abadi sebagai ikon kerahiman, ia tidak bersaing dengan Kristus, melainkan menghadapkan kepada Sang Putra mereka yang terhalang oleh kelumpuhan rohani mereka untuk berjalan sendiri sampai ke kamar pengakuan.
Program Pascasarjana Mariologi
Apakah Anda ingin mendalami formasi Anda dalam Mariologi? Kenali Program Pascasarjana Mariologi dari Locus Mariologicus – sebuah formasi akademis yang memadukan ketelitian teologis, kehidupan rohani, dan tradisi hidup Gereja.
Apakah Anda ingin mempelajari Mariologi secara serius?
Artikel ini lahir dari karya-karya di perpustakaan Locus Mariologicus. Program Pascasarjana Mariologi membawa Anda ke sumber yang sama, dengan pendampingan akademis: Kitab Suci, Bapa-Bapa Gereja, dan Magisterium, dari dogma pertama hingga persoalan-persoalan kontemporer.
Tanggapan