Pengharapan dalam Perjanjian Lama dan Yudaisme pra-Kristen: asal-usul

Oleh Prof. Dr. Daniel C. Afonso · Diperbarui
Pengharapan dalam perjanjian-perjanjian Perjanjian Lama: janji-janji ilahi, identitas Israel, dan iman pra-Kristen
Pengharapan adalah konsep yang beraneka segi yang meresapi berbagai tradisi religius dan filosofis. Dalam konteks Perjanjian Lama dan Yudaisme pra-Kristen, pengharapan bukan sekadar harapan yang samar, melainkan berakar dalam pada janji-janji ilahi, perjanjian-perjanjian, dan kisah-kisah sejarah yang membentuk iman dan identitas bangsa Israel. Artikel ini menelusuri terminologi dan konsep yang berkaitan dengan pengharapan dalam Alkitab Ibrani, dengan menyoroti bagaimana istilah-istilah ini mencerminkan kepercayaan yang teguh pada janji-janji Allah.
Terminologi Ibrani dan Yunani tentang pengharapan: qawāh, yaḥāl, ἔλπίς, ὑπομονή, dan padanan-padanan biblisnya
Kata-kata Yunani yang terkait dengan pengharapan, kesabaran, dan kepercayaan dalam Perjanjian Baru (ἔλπίς, ὑπομονή, προσδοκία, πίστις) memiliki padanan dalam istilah-istilah Alkitab Ibrani berikut:
- קָוָה (qawāh): Merentangkan diri, berharap (C. Westermann, TheolHdWbAT 2, 619-629)
- יָחַל (yaḥāl): Menanti, bertekun (Cf. Barth, ThWbAT 3, 603-610)
- חָכָה (ḥākāh): Menunggu, bersabar (ibid. 2, 915-920)
- בָּטַח (bāṭaḥ): Merasa aman, tanpa kekhawatiran (A. Jepsen, ThWbAT 1, 608-615)
- אָמַן (‘āmān): Percaya, meyakini dengan teguh (A. Jepsen, ThWbAT 1, 313-348)
- חָסָה (ḥāsāh): Mencari perlindungan (J. Gamberoni, ThWbAT 3, 71-83)
Akar-akar kata ini banyak digunakan dalam Mazmur dan dalam teks-teks kenabian yang mengikuti gaya bahasa Mazmur, seperti dalam perikop-perikop yang memadukan berbagai ungkapan kepercayaan dan pengharapan (Mzm 27[26]:13-14; Mzm 62[61]:6-9; Mzm 130[129]:5-7; Rat 3:19-30).

Dari tradisi Yahwista dan Elohista hingga pembaruan pasca-pembuangan: pengharapan dalam kisah-kisah sejarah Alkitab Ibrani
Kitab-kitab sejarah pertama dalam Alkitab Ibrani jarang menggunakan kosakata yang berkaitan dengan pengharapan dan kepercayaan. Namun, kisah-kisah yang termuat dalam teks-teks tersebut sering menunjuk pada berkat-berkat ilahi, janji-janji, dan perjanjian-perjanjian, yang mencerminkan harapan akan masa depan dan kepercayaan pada kuasa Allah yang setia.
Ciri ini tampak jelas dalam tradisi-tradisi yang dihimpun oleh Yahwista pada periode pasca-Salomo di Yehuda dan dalam tradisi-tradisi Elohista yang sebagian diintegrasikan, yang berasal dari kerajaan utara. Contoh-contoh yang menonjol antara lain:
- Kej 8:21: Janji untuk meringankan beban dosa atas bumi, dibandingkan dengan Kej 3:17 dan Kej 5:29
- Kej 12:2: Janji keturunan dan nama yang besar kepada Abraham
- Kej 28:10-22: Janji tanah, keturunan, dan perlindungan yang tetap kepada Yakub
- Bil 23:4-25: Nubuat-nubuat Bileam
- Kel 3:13-14: Pewahyuan nama Allah dan janji kesetiaan abadi
Selama pembuangan, tradisi imamat mengambil alih tradisi-tradisi berkat yang kuno itu, merumuskannya kembali dalam suatu sejarah yang menyeluruh sejak penciptaan hingga awal ibadat di Kemah Suci. Perspektif ini menekankan pengharapan pada janji-janji ilahi dan menunjuk pada pemulihan di masa depan sesudah pembuangan (Kej 2:3; Kel 31:16-17; Kej 9:1-19; Kej 17; Kel 6:2-8).
Historiografi deuteronomistis, yang mencakup periode dari Musa sampai pembuangan, mengambil pendekatan kenabian untuk mengisahkan hubungan Israel dengan firman Allah. Dengan menunjukkan bagaimana Allah selalu menggenapi firman-Nya, historiografi ini menawarkan perspektif keselamatan atau kutukan, tergantung pada tanggapan umat (Ul 7:7-11; 2 Sam 7:1-17).
Di sisi lain, karya penulis Tawarikh menafsirkan kembali pandangan sejarah ini, dengan membarui iman pada janji-janji ilahi dan menguatkan pengharapan komunitas pasca-pembuangan (1 Taw 17:14; 28:9-10).

Bacaan yang dianjurkan: Spe Salvi (Benediktus XVI), ensiklik tentang pengharapan kristiani.
Perdalam studi Anda: jelajahi Mariologi, Teologi Maria, penampakan Maria, dan Program Pascasarjana Mariologi.
Dari perjanjian-perjanjian Abraham hingga pemulihan pasca-pembuangan: pengharapan sebagai kepercayaan pada kesetiaan Allah
Pengharapan dalam Perjanjian Lama dan Yudaisme pra-Kristen digambarkan sebagai kepercayaan yang mendalam pada janji-janji dan kesetiaan Allah. Sejak perjanjian-perjanjian Abraham hingga pembaruan-pembaruan pasca-pembuangan, pengharapan terkait erat dengan penantian akan berkat-berkat masa depan dan pemulihan. Pandangan tentang pengharapan ini tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga mengarahkan perilaku etis dan komunal bangsa Israel, dengan mencerminkan kompleksitas dan kedalaman tradisi-tradisi religius yang membentuk spiritualitas Yahudi.
Institut Locus Mariologicus adalah rujukan akademik dunia dalam Mariologi. Kenali sumber-sumber kami tentang Teologi Maria, penampakan Maria, dan Program Pascasarjana Mariologi.
Untuk mendalami teologi pengharapan Maria, bacalah Ensiklik Redemptoris Mater dari Paus Yohanes Paulus II.
Program Pascasarjana Mariologi
Apakah Anda ingin mendalami formasi Anda dalam Mariologi? Kenali Program Pascasarjana Mariologi dari Locus Mariologicus, sebuah formasi akademik yang memadukan ketelitian teologis, kehidupan rohani, dan tradisi hidup Gereja.
Tanggapan