Santa Maria, murid Tuhan

Santa Maria, discípula do Senhor
“Beruntunglah mereka yang hidup sesuai dengan firman-Nya dan merenungkan keadilan-Nya.” (Sirak 14:20)

I. Pencarian Kebijaksanaan: Perjalanan Spiritual Sirakus 51

Nyanyian akhir Sirakus, yang menjadi bacaan dalam Misa ini, adalah kesaksian seorang pria yang menemukan Kebijaksanaan setelah mencarinya dengan sekuat tenaga yang dimilikinya. “Ketika aku masih muda, bahkan sebelum aku memulai perjalanan, aku mencari Kebijaksanaan dengan doanya. Di depan kuil, aku memohon untuknya, dan aku akan terus mencarinya hingga akhir” (Sir 51, 18-19). Perjalanan Ben Sira adalah perjalanan setiap jiwa yang serius dalam mencari Tuhan: dimulai di masa muda, dipelihara dengan doa, diarahkan ke kuil sebagai tempat pertemuan ilahi-manusia, dan tidak berhenti selama hidup. Ketekunan dalam pencarian ini sendiri merupakan bentuk cinta, cinta yang tidak puas dengan hal-hal dangkal dan tidak menyerah ketika jalan menjadi sulit.Pada akhir nyanyiannya, bijak mengundang kaum muda untuk datang belajar darinya: “Datanglah kepada aku, kalian yang tidak diajari, dan bersantaplah di rumah pengajaran” (Sir 51, 23). Undangan ini bukan dari seorang guru yang bangga memamerkan keahliannya, tetapi dari seorang murid yang telah belajar dan ingin membagikan pengalamannya. Kebijaksanaan yang ditemukan Ben Sira bukan miliknya sendiri; ia adalah harta yang bertambah banyak saat dibagikan, tumbuh saat dibagikan, dan tidak berkurang bagi yang memberikannya karena selalu lebih besar dari kemampuan manusia untuk menahannya. Maria adalah ikon paling sempurna dari disiplin kebijaksanaan ini: ia yang “menjaga semua hal ini di dalam hatinya, merenungkannya” (Luk 2, 19.51) adalah yang paling banyak belajar dan memiliki banyak untuk dibagikan.

II. Dari Bijak yang Mencari ke Anak yang Mengajar

Adegan Yesus di Kuil, yang diceritakan dalam pasal kedua Injil Lukas, adalah satu-satunya episode dari masa kanak-kanak dan remaja Yesus yang dilestarikan oleh Injil. Anak berusia dua belas tahun yang naik ke Yerusalem bersama orang tuanya untuk Paskah tidaklah seorang remaja biasa yang memanfaatkan perjalanan untuk menjelajahi kota; ia adalah orang di mana “Kebijaksanaan Allah” secara substansial tinggal, yang pergi ke Kuil bukan sebagai turis tetapi sebagai anak yang kembali ke rumah Bapa. Ketahanannya di antara para guru, mendengarkan mereka dan bertanya, memiliki struktur disiplin: mendengarkan sebelum berbicara, belajar sebelum mengajar. Namun, jawaban-jawaban yang ia berikan mengungkapkan pemahaman yang tidak mungkin disampaikan oleh guru manusia.Maria dan Yusuf, yang mencari putra mereka yang hilang dengan keprihatinan selama tiga hari pencarian, akhirnya menemukannya di Kuil. Pertanyaan Maria adalah pertanyaan paling manusiawi dan paling ibu yang bisa dibayangkan: “Anak, mengapa kau melakukan hal ini? Lihatlah, ayahmu dan aku sangat khawatir mencari kamu” (Luk 2, 48). Jawaban Yesus, “Aku harus berada dalam urusan Bapa-ku” (Luk 2, 49), mengungkapkan jurang yang terkadang ada antara persepsi manusia dan perspektif ilahi, bahkan di dalam hati yang paling mencintai.

Dan segera setelahnya, teks menyatakan: “Mereka tidak mengerti apa yang Dia katakan kepada mereka” (Lukas 2:50). Maria tidak mengerti. Namun, Dia tetap menyimpannya, karena iman dapat ada di tempat pemahaman belum tercapai.

III. Disiplin Maria: Mendengarkan, Menyimpan, dan Merenungkan

Gambaran Maria sebagai murid Tuhan bukan konstruksi teologis yang muncul kemudian; hal itu terukir dalam narasi Injil Lukas yang, pada dua titik yang paralel (Lukas 2:19 dan 2:51), menggambarkan Maria sebagai sosok yang “menyimpan segala hal itu di hatinya“. Dalam konteks Alkitab, kata “menyimpan” selalu mengandung makna pengawetan yang setia: sesuatu yang berharga disimpan, sesuatu yang tidak ingin hilang disimpan, dan sesuatu yang ingin dikembalikan pada waktunya disimpan. Maria menyimpan rahasia tentang Putra sebagai harta yang Dia ketahui lebih berharga daripada pemahamannya, sebuah harta yang kekayaan penuhnya akan terungkap secara bertahap sepanjang sejarah keselamatan.

Disiplin Maria bukan pasivitas; ini adalah bentuk yang paling aktif dan intens dari hubungan dengan Firman Tuhan yang dapat dicapai oleh makhluk manusia. Yesus akan mendefinisikan hubungan spiritual yang sejati dengannya, bukan berdasarkan kekerabatan biologis, tetapi berdasarkan praktik Firman: “Ibu dan saudara-saudaraku adalah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan mempraktikkannya” (Lukas 8:21). Maria adalah Ibu Yesus secara biologis dan spiritual: Dia mendengarkan Firman pada saat Pengumuman, Dia mempraktikkannya sepanjang hidupnya, dan Dia menyimpannya di hatinya dengan kesetiaan yang tidak tergoyahkan oleh ketidakpahaman atau penderitaan. Itulah sebabnya Dia menjadi model yang paling sempurna dari disiplin Kristen.

IV. Maria, Guru Disiplin bagi Gereja

Misa ke-10 dalam Koleksi, yang pertama di Masa Puasa, mengusulkan Maria sebagai model konversi Masa Puasa yang paling mendalam: disiplin Firman. Masa Puasa adalah waktu ketika Gereja diundang untuk memperbarui pendengaran mereka, memperdalam hubungan dengan Kitab Suci, dan membiarkan Firman Tuhan menembus lebih dalam dan mengubah secara radikal. Dan model pendengaran transformatif ini adalah Maria, murid yang sempurna yang mendengarkan, menyimpan, dan merenungkan tanpa sama sekali lain dari makhluk lain.

Ben Sira mengajak pemuda untuk “berdiri di rumah pengajaran“: Maria berdiri di rumah Putra Allah sejak saat pertama, dan Dia tidak pernah meninggalkan tempat itu. Setiap kalimat yang diucapkan Yesus, Dia menyimpannya. Setiap tindakannya, Dia merenungkannya. Setiap misteri yang tidak dipahaminya pada saat itu, Dia simpan sebagai benih yang menunggu waktunya untuk berbunga. Gereja yang merayakan Misa ini diundang untuk belajar dari Maria tentang apa artinya menjadi murid yang sejati: bukan akumulasi pengetahuan teologis, tetapi pendengaran yang teguh, penyimpanan yang setia, dan renungan doa atas misteri cinta yang melampaui pemahaman.

Pasca-Sarjana di Mariologi

Ingin mendalami pengetahuan Anda tentang Mariologi? Kenali Program Pasca Sarjana Mariologi dari Locus Mariologicus – sebuah pendidikan akademik yang menggabungkan ketatasan teologis, kehidupan spiritual, dan tradisi hidup Gereja.

Daftar atau pelajari lebih lanjut →

Apakah Anda ingin mempelajari mariologi secara serius?

Artikel ini berasal dari karya-karya di perpustakaan Locus Mariologicus. Program Pascasarjana Mariologi membawa Anda ke sumber yang sama, dengan bimbingan akademik: Alkitab, Para Bapa Gereja, dan Magisteri, mulai dari dogma pertama hingga isu-isu kontemporer.

Pelajari Pascasarjana Mariologi

Related Articles

Responses