Kembali kepada Tuhan yang merupakan milik-Nya. Maria dan pengabdian total kepada Tuhan.

Berikanlah yang milik Caesar kepada Caesar dan yang milik Tuhan kepada Tuhan.
Matius 22:17I. Reddite deo: Perangkap dan Kebijaksanaan YesusPertanyaan dari para ahli Farisi dan Herodius sangat cerdik: pajak kepada Caesar dalam bentuk koin Romawi adalah isu sensitif di Palestina yang diduduki. Membayar pajak berarti bekerja sama dengan penjajah. Menolaknya adalah bentuk pemberontakan politik. Yesus meminta mereka menunjukkan koinnya, mengamati gambar Caesar dan bertanya: “Dari siapa gambar dan tulisan ini?” Jawaban, “Dari Caesar,” mempersiapkan kesimpulan: “Berikan Caesar apa yang milik Caesar, dan kepada Allah apa yang milik Allah.”Pemisahan domain yang diusulkan Yesus bukan doktrin laisisme tentang pemisahan agama dan negara, tetapi pernyataan yang lebih radikal: ada domain Allah yang tidak dapat dilanggar oleh siapapun Caesar. Domain Allah mencakup, pada akhirnya, segala sesuatu yang memiliki “gambar” Allah, yaitu manusia (Kejadian 1:26-27). Koin memiliki gambar Caesar. Manusia memiliki gambar Allah. “Berikan Allah apa yang milik Allah” berarti, pada akhirnya, mengembalikan manusia secara utuh kepada Allah.Kebijaksanaan Yesus dalam jawaban ini bukan hanya retorika, tetapi teologis: Dia menolak baik clericalisme yang ingin menyatukan politik dan agama, maupun laisisme yang ingin mengecualikan Allah dari domain publik. Ada ruang sah untuk Caesar. Namun, ruang itu selalu berada di bawah otoritas domain Allah yang lebih mendasar. Tidak ada Caesar yang dapat mengklaim milik Allah, dan yang milik Allah adalah manusia yang dibuat sesuai gambar-Nya.Jawaban Yesus membuat para pembicara terkesan (Matius 22:17). Penekanan mereka bukan hanya pada keterampilan retorika, tetapi terkejut atas kebijaksanaan yang menyentuh inti permasalahan tanpa terjebak pada alternatif palsu. Kebijaksanaan ini memiliki ikon marial: “Sedes Sapientiae” (Tron Kebijaksanaan), yaitu Maria, yang melahirkan Kebijaksanaan dan dibentuk oleh-Nya sepanjang hidupnya.II. “Imago dei”: Manusia yang Memiliki AllahKejadian 1:26-27: “Mari kita buat manusia menurut gambar dan rupa kita…” Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan.”Gambar Tuhan” (imago Dei) pada manusia adalah dasar Alkitab dari martabat manusia: manusia bukan milik Caesar atau kekuatan manusia lainnya, tetapi ia adalah “dari Tuhan”, dibuat sesuai gambar-Nya. “Berikan kepada Tuhan apa yang milik Tuhan” secara terakhir berarti mengakui asal-usul dan tujuan ini: kita adalah milik Tuhan dan untuk Tuhan. “Reddite Deo” Yesus mengartikan imago Dei sebagai panggilan untuk totalitas kepemilikan.Tradisi patristik, khususnya Agustinus dalam *De Trinitate* dan Gregorius dari Nisa dalam *De Hominis Opificio*, mengembangkan teologi imago Dei dengan kedalaman yang besar: gambar Tuhan pada manusia bukan hanya hak ontologis, tetapi panggilan dinamis. Kita adalah “gambar” Tuhan tidak secara statis tetapi secara prosesual: karunia secara bertahap memulihkan gambar yang rusak oleh dosa, menuju kesamaan penuh yang akan diselesaikan oleh penglihatan bahagia.Maria, dalam tradisi, adalah makhluk di mana imago Dei dicapai paling sempurna. Imaculat Konsepsi bukan penghapusan kemanusiaan Maria, tetapi pencapaian paling penuh: Maria tanpa dosa asal adalah Maria yang lebih sepenuhnya “gambar Tuhan”, tanpa kerusakan yang dibawa oleh dosa. Dia yang dilindungi dari kerusakan ini adalah yang memberikan kepada Tuhan apa yang milik Tuhan secara paling lengkap, karena gambar Tuhan di dalamnya tidak tertutup.Koneksi antara imago Dei dan pertanyaan pajak membuka perspektif yang tak terduga: sama seperti koin yang ditandai dengan gambar Caesar adalah milik Caesar, manusia yang ditandai dengan gambar Tuhan adalah milik Tuhan. Kepemilikan ini bukan perbudakan, tetapi kondisi kebebasan terdalam: untuk milik Tuhan adalah menjadi bebas dari segala bentuk perbudakan manusia. Maria, yang sepenuhnya milik Tuhan, sepenuhnya bebas dari segala ketergantungan yang bukan ketergantungan kasih sayang anak.III. “Fiat” Maria sebagai “Reddite Deo”
Luk 1:38: “Terjadi padaku sesuai dengan kata-Mu.” “Fiat” Maria adalah ekspresi paling sempurna dari “Reddite Deo quae sunt Dei”: ia mengembalikan kepada Tuhan apa yang milik Tuhan, kebebasan-Nya, tubuh-Nya, masa depannya, dan pemahamannya tentang apa yang seharusnya menjadi hidupnya. “Fiat” Maria bukan kepasrahan pasif dari seseorang yang tidak memiliki pilihan, tetapi tindakan paling bebas dalam sejarah manusia, di mana ia menyerahkan kepada Tuhan apa yang milik-Nya.Struktur “fiat” memiliki dua tahap: pertama, pengakuan (“Hamba Tuhan ini”, Luk 1:38a), yang mengakui bahwa ia milik Tuhan. Kedua, penyerahan (“Terjadi padaku sesuai dengan kata-Mu”, Luk 1:38b), yang merupakan pengembalian aktif dan bebas kepada Tuhan apa yang milik-Nya.Dua momen, pengakuan dan penyerahan, merupakan struktur dari seluruh spiritualitas Kristen pengabdian. “Reddite Deo” dari Injil menemukan bentuk manusia yang paling sempurna dalam “fiat” Maria.Tradisi pengabdian kepada Maria, khususnya yang berasal dari St. Louis Maria de Montfort, dibangun berdasarkan logika ini: mengabdikan diri kepada Maria adalah belajar untuk “memberi kepada Tuhan apa yang milik Tuhan” dengan tingkat radikalisme yang sama seperti yang dilakukan Maria. Pengabdian kepada Maria bukan menggantikan Tuhan dengan Maria, tetapi mengakui bahwa Maria, yang memberikan segalanya kepada Tuhan dengan sempurna lebih dari makhluk manusia lainnya, adalah jalan terbaik untuk belajar memberi kepada Tuhan apa yang seharusnya milik-Nya.Kalender liturgi secara khusus menyisihkan Sabtu untuk Maria, dan devosi Sabtu ini memiliki resonansi Alkitabiah: Sabtu adalah hari “istirahat dalam Tuhan”, hari ketika manusia, dengan berhenti bekerja, mengakui bahwa mereka bukan penguasa penciptaan tetapi hanya pengelolanya. Maria, yang “istirahat dalam Tuhan” dengan totalitas melalui “fiat”-nya, adalah figur Sabtu Kristen: makhluk yang berhenti menjadi “penguasa” atas takdirnya sendiri dan menyerahkan diri kepada Tuhan yang sejati.IV. Caesar dan Tuhan di Zaman Sekarang: Maria di Dunia Sekuler
Pertanyaan “tribut kepada Caesar” memiliki versi kontemporer yang harus ditangani oleh mariologi: di dunia sekuler, di mana “Caesar” modern, negara, pasar, dan opini publik menuntut wilayah yang sebelumnya dialokasikan untuk Tuhan, perintah Yesus “berikan kepada Tuhan apa yang milik Tuhan” merupakan perlawanan budaya yang diperlukan. Ada ranah keberadaan manusia yang tidak boleh diserahkan kepada Caesar: kesadaran, martabat, kehidupan, cinta.Maria, yang hidup di bawah kekuasaan Caesar nyata (Kekaisaran Romawi, yang mengatur sensus yang membawanya ke Betlehem, Lk 2:1), tidak didefinisikan oleh Caesar. Identitas-Nya tidak berasal dari sensus, status sosial, atau posisinya di Kekaisaran, tetapi dari hubungannya dengan Tuhan. “Reddite Deo” marian adalah perlawanan spiritual terhadap “Caesar” modern: kebebasan dalam dalam “Anawim” (orang-orang miskin Tuhan) di dunia di mana “Caesar” modern berusaha mengkolonisasi seluruh keberadaan.“Berikan kepada Tuhan apa yang milik Tuhan” memiliki penerapan khusus dalam budaya kontemporer di bidang kebebasan beragama: upaya beberapa negara modern untuk mengatur kesadaran agama, mendefinisikan apa yang merupakan praktik agama yang sah, mengurangi iman menjadi urusan pribadi tanpa dampak publik, adalah persis seperti tuntutan “Caesar” yang mengklaim milik Tuhan. Maria, yang hidup iman-Nya secara sepenuhnya publik (Magnificat adalah proklamasi politik), sekaligus sepenuhnya sukarela dan tidak paksa, adalah model iman yang “berikan kepada Tuhan apa yang milik Tuhan” tanpa didomestikasi oleh Caesar.Warisan St. Philip Neri, yang peringatan hari-Nya dirayakan hari ini, sangat relevan: ia yang mendirikan Oratorian di Roma pada abad ke-16, di tengah ketegangan politik dan agama yang intens, memilih jalan kegembiraan, budaya, doa, dan pelayanan sebagai cara “berikan kepada Tuhan apa yang milik Tuhan” tanpa konfrontasi langsung dengan kekuasaan. Jalan ini, yang memiliki inspirasi terakhir dari Maria, adalah jalan dari saksi yang tidak didefinisikan oleh Caesar tetapi juga tidak mencari konfrontasi yang sia-sia.Maria, yang dengan taat mengembalikan kepada Tuhan segala sesuatu yang menjadi milik-Nya, adalah teladan sempurna bagi mereka yang memahami perintah Yesus: “Berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan,” yaitu keseluruhan keberadaan manusia yang diciptakan sesuai gambar-Nya.Referensi
- Agustinus, *De Trinitate*, XIV-XV.
- Paus Yohanes Paulus II, *Redemptoris Mater*, n. 14 (1987).
- St. Louis Maria de Montfort, *Tratado da Verdadeira Devoção*, n. 121-133.
- J. Gnilka, *Das Evangelium nach Markus*, vol. II (1979).
- Konsili Vatikan II, *Gaudium et Spes*, n. 12 (1965).
Pasca-Sarjana di Mariologi
Apakah Anda ingin mendalami studi Anda dalam Mariologi? Kenali Program Pascasarjana Mariologi dari Locus Mariologicus – sebuah pendidikan akademik yang menggabungkan ketatasan teologis, kehidupan spiritual, dan tradisi hidup Gereja.Apakah Anda ingin mempelajari mariologi secara serius?
Artikel ini berasal dari karya-karya di perpustakaan Locus Mariologicus. Program Pascasarjana Mariologi membawa Anda ke sumber yang sama, dengan bimbingan akademik: Alkitab, Para Bapa Gereja, dan Magisteri, dari dogma pertama hingga isu-isu kontemporer.
Responses