Yohanes telah dipenggal: kematian Yohanes Pembaptis dan Maria pada hari Sabtu Penantian

I. «*Decollatus est Ioannes in carcere*»: Kematian Nabi atas Keinginan
“*Et misit decollare Ioannem in carcere*” (Mt 14,10). Kematian Yohanes Pembaptis diceritakan oleh Matius dengan brutalitas yang ringkas: sebuah perintah, sebuah eksekusi, sebuah kepala di atas piring. Adegan ini bertentangan dengan kemegahan para nabi di Perjanjian Lama yang meninggal dalam pertempuran atau karena kematian alami. Yohanes, nabi terbesar (“*inter natos mulierum non surrexit maior Ioanne Baptista*”, Mt 11,11) meninggal karena sebuah janji yang tidak bijaksana yang dibuat kepada seorang penari dan dendam seorang wanita yang dia tegur dengan benar.
Kepada kematian Yohanes yang tampaknya acak ini terdapat makna teologis: nabi Tuhan tidak meninggal dalam konfrontasi langsung dengan kekuasaan, tetapi dalam kematian yang absurd, sebagai korban dari keinginan manusia yang saling bertentangan. Ini adalah kematian nyata para martir: jarang epik, sering absurd, selalu disebabkan oleh kebodohan kejahatan yang lebih memilih kepuasan daripada kebenaran. Yohanes ditangkap karena mengatakan kebenaran kepada kekuasaan (Herodes tidak boleh memiliki istri saudaranya, Mt 14,4). Dia dieksekusi karena kebenaran itu lebih mengganggu daripada janji yang tidak bijaksana.
Kematian Yohanes mendahului kematian Yesus dengan struktur yang sama: sebuah pengadilan yang tidak adil (Pilatus mengakui kebaikan Yesus, Mt 27,24), tekanan dari kerumunan yang dimanipulasi (Herodes menyerah pada putrinya, Pilatus menyerah pada kerumunan), eksekusi sebagai hasil dari tekanan politik, bukan dari hukuman yang adil. Yohanes adalah cermin mini dari Kematian Yesus, sebagai yang terjadi dalam hidupnya.
II. Maria: Patraii Setia di Tengah Skandal Kematian
Sabtu ini, bersama dengan kematian Yohanes Pembaptis, kita merayakan Sabtu Bakat Terpuji Virgin Maria. Devosi tradisional ini bermula pada abad ke-11 hingga ke-12, ketika hari-hari Sabtu tanpa perayaan khusus didedikasikan untuk mengingat Maria. Teologi devosi ini terhubung dengan Sabtu Suci: Maria yang tetap setia selama hari tunggal ketika tubuh Anak-Nya berada di dalam makam menjadi patron dari hari-hari Sabtu. Keberadaan narasi kematian Yohanes Pembaptis dan peringatan Maria pada hari yang sama menciptakan konteks meditasi yang kaya: kematian nabi dan kesetiaan Maria sebagai dua bentuk perlawanan terhadap skandal kematian mereka yang melayani Tuhan.
«*Praecursor domini in morte*»: Yohanes sebagai pendahulu dalam kematian«*Accedentes discipuli eius tulerunt corpus et sepelierunt illud, et euntes nuntiaverunt Iesu*» (Mt 14,12). Murid-murid Yohanes yang mengubur guru mereka dan memberitahukan kematian kepada Yesus, secara tidak sadar melakukan apa yang akan dilakukan murid-murid Yesus setelah Perjamuan Terakhir: mereka mengumpulkan tubuh, menguburnya, dan menyampaikan berita tersebut. Struktur narasi paralel antara Kematian Yohanes/Kematian Yesus merupakan salah satu titik pengikatan yang paling halus dalam teologi Matius.Yohanes sebagai «*precursor in morte*» memiliki akar dalam tradisi patristik: sama seperti Yohanes mendahului Yesus dalam kelahiran (enam bulan sebelumnya, Lk 1,36), dalam pelayanan (mengumumkan apa yang akan dilakukan Yesus), dalam pembaptisan (Yohanes di Yordan, Yesus di Kalvari, lihat Lk 12,50: «*baptismo habeo baptizari*»), ia juga mendahului Yesus dalam kematian. Martirium Yohanes adalah pengumuman nabi tentang martirium Yesus, logika yang sama dari kebenaran yang diucapkan kepada kekuasaan, penolakan untuk diam terhadap kebenaran, dan nasib yang sama.Berita tentang kematian Yohanes sampai kepada Yesus (Mt 14,13), dan Yesus «*secessit inde navicula in locum desertum seorsum*». Reaksi Yesus terhadap kematian pendahulu-Nya adalah menarik diri: bukan lari, tetapi berkabung, diam, dan merenung. Kematian Yohanes bagi Yesus bukan hanya kematian seorang nabi, tetapi tanda tentang apa yang akan menimpa-Nya sendiri. Matius tidak mengembangkan reaksi internal Yesus, tetapi gerakan menuju «*locum desertum*» adalah gerakan seseorang yang membutuhkan keheningan di hadapan misteri kematian yang brutal dari orang yang benar.III. Maria dan Sabtu Menanti: Memori pada SabtuDevosi terhadap Sabtu Maria memiliki akar teologis dalam Sabtu Suci, satu-satunya hari dalam sejarah di mana Anak Allah berada dalam keadaan mati. Pada Sabtu Suci, seluruh Gereja manusia, secara metaforis, menggantung antara kematian pada hari Jumat dan Kebangkitan yang akan datang pada hari Minggu. Dan Maria, berbeda dengan murid-murid yang lari dan bersembunyi, tetap setia, menjaga iman ketika semua orang lain telah kehilangan harapan.Teologi Sabtu Maria yang dikembangkan oleh para master abad pertengahan (terutama dalam tradisi Dominikan) menghubungkan kesetiaan Maria pada Sabtu Suci dengan doa mingguan pada hari Sabtu: setiap Sabtu adalah peringatan Sabtu Suci dan kesetiaan Maria. Memori Maria pada hari Sabtu adalah peringatan iman yang tidak menyerah di hadapan makam, iman yang menjamin, secara metaforis, kelanjutan Gereja antara Jumat Suci dan Minggu Paskah.Kisah kematian Yohanes Batista yang diceritakan dalam Injil pada hari Sabtu ini merupakan meditasi tambahan: sama seperti Maria menjaga iman setelah kematian Putra, murid-murid Yohanes menjaga tubuh guru mereka dan menyampaikan berita tersebut kepada Yesus.Ketaatan mereka yang menjaga orang mati, yang berjaga, yang mengubur, yang memberitakan, adalah ketaatan yang dirayakan dalam devosi mariana pada hari Sabtu: ketaatan pada saat paling gelap, ketika Tuhan tampak tidak ada dan misi tampaknya selesai.IV. Ibu Domba dan Ibu Pengantar: Maria dan Isabel dalam Misteri Salib
Isabel, ibu Yohanes Pembaptis, adalah sepupu Maria (Lukas 1:36). Kedua ibu, Maria dan Isabel, bertemu pada saat *Kunjungan* ketika Yohanes melompat di dalam rahim Isabel setelah mendengar sapaan Maria (Lukas 1:41-44). Kebahagiaan *Kunjungan* adalah pertemuan kedua ibu yang anak-anak mereka akan berbagi nasib yang sama: Pengantar dan Domba, keduanya mati di tangan kekuasaan manusia.Tradisi devosi jarang merenungkan Isabel sebagai ibu seorang martir, lebih fokus pada kebahagiaannya pada *Kunjungan*. Namun, paralel antara nasib Yohanes dan nasib Yesus menyarankan paralel antara kesedihan Isabel (ibu yang kehilangan anaknya) dan kesedihan Maria (ibu yang disalibkan). Kedua wanita yang bertemu dalam kebahagiaan akhirnya berbagi rasa sakit karena melahirkan nabi yang mati demi kebenaran. “*Schola doloris*” yang diwujudkan oleh *keibuan spiritual* Maria adalah sekolah kedua Maria, Maria dari Nazaret dan Isabel dari Yudea.Devosi marian pada hari Sabtu yang memasukkan narasi kematian Yohanes Pembaptis mengundang meditasi tentang rantai ketaatan yang mendukung sejarah keselamatan: Isabel yang melahirkan Pengantar, Maria yang melahirkan Domba. Yohanes yang mati lebih dulu, Yesus yang datang setelahnya. Murid-murid Yohanes yang mengubur gurunya, murid-murid Yesus yang menemukan kubur kosong. Setiap rantai ketaatan ini adalah bentuk mengatakan “*fiat*”, penerimaan misi yang melibatkan penderitaan tetapi pada akhirnya diarahkan ke Kebangkitan yang diumumkan Yohanes dan dihasilkan Maria.Pasca-Sarjana di Mariologi
Apakah Anda ingin mendalami studi Anda dalam Mariologi? Kenali Program Pasca Sarjana Mariologi dari Locus Mariologicus, sebuah pendidikan akademik yang menggabungkan ketatasan teologis, kehidupan spiritual, dan tradisi hidup Gereja.Apakah Anda ingin mempelajari mariologi secara serius?
Artikel ini berasal dari karya-karya di perpustakaan Locus Mariologicus. Program Pascasarjana Mariologi membawa Anda ke sumber yang sama, dengan bimbingan akademik: Alkitab, Para Bapa Gereja, dan Magisteri, dari dogma pertama hingga isu-isu kontemporer.
Responses